90.jpg

Perayaan Halloween memang identik dengan cerita seram serta berbagai pengalaman mistis yang membuatmu merinding. Kali ini cerita horror tersebut datang langsung dari pengalaman nyata dan pribadi dari tim editorial kami. Penasaran seperti apa? Baca selanjutnya disini.

1/7 Diella, Digital Senior Editor

DIELLA.jpg

Beberapa tahun yang lalu ketika saya masih berkuliah, saya sering sekali tidak bisa tidur. Waktu itu udara sedang dingin-dinginnya dan salju pun terus turun. Malam menunjukkan pukul 2 dini hari dan tiba-tiba teggorokan saya terasa sangat kering dan panas. Tanpa berpikir panjang, saya langsung berjalan menuju dapur untuk mengambil air. Setelah menghabiskan satu gelas air, saya memutuskan untuk kembali ke kamar.

Sehabis melepas haus, saya pun memutuskan untuk kembali tidur. Lalu tidak lama mata saya terlelap, seseorang tiba-tiba menyentuh pundak saya. Sontak saya membuka mata dan bertanya apakah saya hanya bermimpi?

“Tapi gak mungkin ada tangan sedingin itu menyentuh pundak saya,” kata saya dalam hati sambil berpikir apakah yang memegang saya adalah… yah sudahlah, lanjut tidur saja, pikirku kala itu.

Tidak lama setelah kejadian itu, di malam yang sama, saya kembali terbangun karena mendengar seseorang berdehem dan tepat disamping telinga saya. Keadaan malam itu sangatlah gelap karena semua lampu sudah dimatikan. Lalu saya membuka selimut dan mulai menyalakan lampu senter telepon genggam saya dan memberanikan diri untuk melongok bagian bawah kasur saya. Tak lama setelah itu semuanya gelap dan saya terbangun kesokan hari tepat pukul jam 8 pagi.

2/7 Kevin, Editor

Hessy.jpg

Dinginnya malam Senin ditambah dengan suara hujan yang turun deras hari itu, sukses membuat saya kedinginan sampai saya tidak bisa tertidur. Detik demi detik, hujan yang turun dengan deras perlahan berubah menjadi rintik-rintik dan menghilang di dalam gelapnya malam, meninggalkan embun di kaca jendela kamar saya. Malam itu entah kenapa hawa dingin merasuki pori-pori kulit, membuat bulu kuduk berdiri. Saya yang hanya ditemani dengan anjing kecil saya, memutuskan untuk mencari beberapa teman yang sekira masih terbangun di tengah malam. Akhirnya saya menghubungi Ega, salah satu teman saya yang terbiasa begadang dengan stick game di kedua tangannya. Setelah mengirim berbagai pesan singkat, kami akhirnya memilih untuk mengobrol menggunakan fitur video call.

Kami sangat excited mengobrol malam itu, namun entah mengapa Ega selalu menanyakan kondisi saya, karena saya terdengar sedih malam itu. “Ah, mungkin karena lama ga ketemu kali makanya lo denger suara gue kayak nangis”, sembari aku mencoba tertawa, mencoba memecahkan keheningan di dalam kamar saya saat itu.

“Makin lama makin besar ya” kata Ega. Sontak saya kaget, kemudian menanyakan maksud dari pernyataan itu. “Iya, suara TV kamu makin lama makin kedengeran. Kamu lagi nonton apaan sih?” tanyanya. Di situ saya langsung merinding sejadi-jadinya, karena saya sangat mengetahui bahwa tidak ada TV ataupun radio baik di kamar saya di lantai 2 dan di ruang tamu di lantai 1 yang tertinggal menyala semalaman. Kamu tahu kan bagaimana beratnya bahu dan punggung ketika kamu merasa ada seseorang yang melihat kamu? Ya. Itu yang saya rasakan saat itu. “Yaudah aku tidur ya, besok kerja” suara Ega membuatku tersadar bahwa saat itu jam sudah menunjukkan pukul 1 pagi. Saya pun mematikan telepon genggam saya, kemudian menjatuhkannya di atas tempat tidur.

Semenit, dua menit berlalu ada yang bergetar dari telepon genggam saya yang saat itu juga diikuti dengan suara isakan. Saya menempelkan speaker hp di telinga saya, lalu berdiam diri. Tak lama setelah itu saya menyadari bahwa suara tangisan itu keluar dari speaker HP sata. Karena merasa ngeri akhirnya saya menekan tombol power HP saya, namun yang muncul adalah logo HP saya, menandakan bahwa HP saya baru dinyalakan. Lalu, suara tangisan itu dari mana?

3/7 Adriana, Digital Editor

Adriana.jpg

Cerita horror ini saya alami saat mengunjungi acara gereja pada Jum’at sore beberapa pekan lalu. Kebetulan, saya termasuk salah satu pengurus gereja, di kawasan Jakarta Pusat, yang cukup aktif dalam mengikuti berbagai kegiatan kerohanian. Pada sore itu, setelah selesai acara, saya pergi kedalam gereja untuk menempelkan buletin. Seperti papan buletin yang biasa ditemukan di sekolah-sekolah, sebelum menempelkan saya harus membuka penutup kaca terlebih dahulu. Lalu setelah menggeser penutupnya dan menempelkan buletin di papan tersebut, saya menoleh ke arah kaca dan mendapati seseorang berdiri di atas podium yang posisinya tepat di belakang saya. Sontak saya kaget dan menoleh ke arah podium tersebut, tetapi saya tidak menemukan siapapun sedang berdiri di sana. Tanpa berpikir panjang, saya langsung membereskan kertasnya dan mengucap doa lalu bergegas keluar.

4/7 Zelisa, Digital Editor

Zelisa.jpg

Cerita ini saya alami ketika saya masih menduduki bangku kuliah. Kala itu, saya tinggal di salah satu kos-kosan dekat kampus. Sebenarnya, kos tersebut dapat dibilang nyaman. Hanya saja, terkadang, saya dapat mendengar suara seorang wanita yang sedang menyanyi di malam hari. Awalnya, saya berpikir kalau itu hanyalah suara tetangga saya di kamar sebelah, berhubung rumah kos yang saya tinggali dikhususkan bagi perempuan.

Suatu hari, pernah saya sedang bersiap untuk tidur. Suara nyanyian itu dapat terdengar lagi, tapi seperti biasa, saya mengabaikannya. Namun, ketika saya sudah berbaring dan menutup mata, suara nyanyian itu menjadi begitu jelas, seakan-akan memang ada seorang wanita yang menyanyi tepat di telinga saya. Sontak, saya langsung terbangun dan menoleh ke samping tempat tidur saya. Suara nyanyian itu memang langsung hilang, tapi di saat yang sama, tidak ada siapa pun yang terlihat di samping saya.

Sampai sekarang, saya sering bertanya-tanya "Apakah suara tersebut adalah mimpi, suara tetangga saya, atau suara dari seseorang yang tak kasat mata?"

5/7 Aditya, Editor

Adit.jpg

Cerita ini terjadi pada tahun 2009 ketika saya pertama kali pindah ke boarding house di Yogyakarta. Karena tidak pernah tinggal di boarding house sebelumnya, saya berniat untuk mengirim pesan gambar ke pacar saya, yang sekarang tentunya sudah menjadi mantan. Karena kualitasnya yang tidak terlalu baik, berhubung saya mengambilnya dengan HP Nokia jaman jadul, saya tidak begitu memperhatikan apa yang ada di gambar tersebut. Setelah mengirim pesan, mantan saya membalas melalui text message bahwa dia melihat siluet seorang anak kecil yang sedang berdiri di depan TV dan melihat kebawah di foto tersebut. Sontak saya penasaran dan mencoba melihat foto tersebut dan mendapatkan hal tersebut memang benar adanya. Setelah kejadian itu, saya langsung tidur di kamar teman saya selama satu minggu.

6/7 Rai, Circulation Coordinator

Bathroom.jpg

Pada tahun kedua saya kuliah, saya memutuskan untuk pindah ke rumah sewa dengan tiga teman sekelas saya selepas kewajiban untuk tinggal di asrama kampus pada tahun pertama. Rumah yang kami sewa pada saat itu terdiri dari bagian atas yang berisi dua kamar yang terbagi oleh sekat dengan posisi pendingin ruangan yang diperuntukkan untuk kedua kamar tersebut di tengah-tengah sekat yang ada. Lalu di bagian bawah rumah tersebut, terdapat dapur, kamar mandi, dan ruang tengah yang sering kami gunakan untuk bermain bersama teman-teman yang singgah ke rumah kami. Kondisi rumah kami pada saat itu cukup menyeramkan bagi kami karena rumah tersebut terlihat sudah lama tidak ditempati oleh pemiliknya.

Beberapa hari setelah pindah, saat itu selepas kelas di kampus, saya memutuskan untuk mandi karena merasa sangat gerah di hari itu. Ketika saya di dalam kamar mandi, saya mendengar suara pintu depan diketok dengan keras oleh seseorang. Saya berpikir, pasti itu salah satu dari teman saya yang baru pulang juga, namun tidak bisa masuk karena pintu saya kunci dengan posisi kunci yang masih tertinggal. Saya berteriak dari dalam kamar mandi untuk menunggu karena pada saat itu saya sedang mandi, tetapi teman saya tetap mengetok pintu dengan keras. Seselesainya saya mandi, saya membuka pintu dan tidak mendapati satu orang pun di depan rumah ataupun sekitaran rumah.

7/7 Arum, Traffic Editorial

ARUM.jpg

Saat itu tepat jam 12 malam, tapi rasanya mata ini masih terlalu segar untuk dipejamkan. Alhasil Instagram menjadi satu-satunya teman di malam itu. Scrolling ini, stalking itu, baca ini itu, dan gak sadar tiba-tiba udah jam 2 pagi. Tapi karena belum bisa tidur, saya lanjutkan bermain Instagram hingga tak lama setelah itu saya mendengar seseorang sedang menangis. Lalu saya bertanya kepada diri sendiri, “masa sih malem-malem gini ada yang nangis? Mungkin tentangga yang lagi galau.” Lalu suara tangisnya pun semakin terdengar aneh dan terkesan berjeda di setiap detiknya. Masih berpikir positif, tiba-tiba keinget kalau dideket rumah ada pengerjaan jalan tol. Sentak dalam hati langsung berkata, “ah mungkin itu suara mesin” Daripada pusing akhirnya saya putuskan untuk tidur jam 3 pagi.

Keesokan harinya ketika sedang membuka Instagram, saya melihat tetangga saya mengunggah status yang bertuliskan “duh tadi pagi denger si Mbak lagi nangis, bikin gak bisa tidur aja.” Merasa senasib, akhirnya saya memberanikan diri untuk bertanya “si Mbak tuh siapa ya? Gue juga denger!”. Gak sampe 5 menit, si tetangga udah jawab “Si Mba Kunti, emangnya lo gak tau kalau dia sering ada di daerah rumah kita? Kadang suaranya deket, tapi itu artinya dia jauh dari tempat lo. Kalau suaranya jauh, nah itu deh yang bahaya! Artinya deket disekitar lo”.

Udah tau kan apa yang saya pikirkan saat denger jawaban itu?