frog.jpgFoto dok: World of Bodypainting 

Nama Johannes Stötter mungkin tidak asing lagi didengar di kalangan seniman dan pecinta seni. Pria kelahiran Italia ini dikenal akan karyanya yang inovatif di bidang seni lukis tubuh. Pada tahun 2013, karya ilusi optiknya yang bertajuk “Tropical Frog” menjadi headline di berbagai media cetak, media online dan majalah seperti New York Post, The Sun,The Guardian dan Spiegel. Hal ini mendorongnya untuk menyempurnakan kepiawaiannya dalam seni melukis tubuh atau bodypainting dan sekaligus menguatkan namanya di kancah internasional.

Sebelum meraih kesuksesan sebagai seniman pelukis tubuh, Johannes melalui proses pencarian jati diri yang panjang. Memulai karir sebagai pemusik, mendalami ilmu filsafat hingga kecintaannya terhadap hewan dan lingkungan, menjadikannya salah satu seniman di dunia yang paling berpengaruh. Berikut kisah hidup dan perjalanan karir Johanness Stötter.
 
Awalnya bercita-cita menjadi seorang musisi

 musik.jpgFoto dok: Johannesstoetterart.com

Tumbuh dalam keluarga musisi, Johannes dan keempat saudaranya memiliki dedikasi dan kecintaan yang dalam terhadap musik. Tidak hanya piawai dalam memainkan whistle dan bouzouki, Johanness juga sempat bergabung sebagai seorang pemain biola di sebuah band bernama “Burning Mind.” Pada salah satu wawancaranya, ia mengatakan bahwa musik merupakan salah satu bagian terpenting dalam hidupnya. Namun, ia mengakui bahwa bermusik bukanlah jalan hidup yang ingin ia tekuni. “Saya tidak ingin orang-orang melihat karya saya dan mengangguk dan tidak pernah memikirkannya lagi.” Setelah melewati perjalanan panjang, ia pun akhirnya menemukan panggilan jiwanya saat ia menggoreskan kuas cat untuk pertama kalinya.

Beralih profesi menjadi seorang seniman lukis tidak membuatnya meninggalkan musik. Saat mengenyam pendidikan filsafat di Universitas Innsbruck, Austria, Johanness sering terlibat dalam beberapa proyek sosial yang menggabungkan seni lukis dan seni musik.
 
Perjalanan awal sebagai pelukis

parrot-body-painting-by-johannes-stotter-3.jpgFoto dok: Twistedsifter.com

Sampul sebuah CD band milik temannya menjadi sebuah awal perjalanan yang menghantarkannya pada seni lukis. Kesempatan mendesain sampul ini digunakannya untuk mewujudkan hasrat terpendamnya sebagai seorang pelukis. Alih-alih menggunakan sebuah kanvas, ia pun menjadikan tubuh salah satu seorang anggota band tersebut sebagai media lukis dan menciptakan karya seni ilusi optik dimana objeknya terlihat seolah menjadi satu dengan latarnya. Lalu, ia pun semakin yakin untuk mengikuti kata hatinya.
 
Seniman otodidak

Bodyart-by-Johannes-Stoetter-Inspired-by-Nature-2.jpgFoto dok: viralserv.com

Sebagai seorang seniman otodidak, Johanness mengakui bahwa ia tidak mengenal teknik-teknik dasar melukis seperti maestro lukis lainnya. Pada situs resminya, ia mengatakan bahwa karyanya terinspirasi dari filosfi hidupnya dan ketertarikannya pada masyarakat dari berbagai budaya. Hal ini juga yang mendorongnya untuk bergabung dengan komunitas bodypainting internasional pada 2009 dan memberanikan diri untuk mengikuti kejuaran dunia, World Bodypainting Festival di Austria, untuk pertama kalinya.

Meninggalkan seni lukis kanvas konvensional, Johannes menuangkan ide kreatifnya pada model hidup dimana ia mengintegrasikan hubungan antara seniman, makhluk hidup dan kreasi seni. Menghidupkan karya seni pada setiap sapuan kuas dan menciptakan efek detail dengan tangannya, ia mampu menggabungkan yang terlihat dan tidak terlihat menjadi satu kesatuan sempurna. Seringkali memadukan latar pemandangan alam atau dekorasi dalam ruangan, Johannes menciptakan efek kamuflase yang menggambarkan keindahan karya seni sama seperti aslinya, yang begitu nyata dan rentan.

Terinspirasi dari keindahan alam semesta

“Bagi saya manusia dan hewan dapat melebur dalam lingkungan mereka,” Johanness mengatakan pada salah satu wawancaranya. Dalam setiap karyanya, ia menggambarkan sebuah kamuflase antara seorang manusia dengan alam yang menjadi latarnya. Seperti salah satu karyanya berjudul “Moss Elf,” seorang wanita bediri didepan sebuah pohon besar dengan lukisan tubuh mirip seperti batang pohon seolah-olah tubuhnya melebur menjadi satu dengan latarnya. Karya selanjutnya berjudul “Reflection” juga menggambarkan keindahan sebuah bukit berbatu yang dikelilingi oleh danau kecil dan padang rumput dimana kita akan dapat melihat sesosok wanita yang berdiri di antaranya jika melihatnya secara seksama.

Johanness juga memiliki kecintaan yang mendalam terhadap binatang. Hal ini sudah dimilikinya sejak kecil saat ia mencantat setiap detail dari setiap hewan pada jurnalnya. “Cakar mereka, jenis bulu-bulu khusus dan serabut otot selalu menarik perhatian saya,” jelasnya pada biografi pendek di situs resminya. “Saya harus mengetahui anatomi hewan dengan baik untuk melukisnya” dan hal ini dapat kita lihat secara jelas di beberapa karyanya seperti “Barn Owl,” “Phyton” dan “Tropical Frog.” 

Dedikasi dan apresiasi yang tinggi terhadap seni

Hasil karya yang inspirasional menggambarkan totalitas dan kemampuannya dalam memilih corak warna yang akurat dan karya seni yang realistis. Dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan yang penuh akan kreativitas, kerohanian dan kehidupan alternatif yang saling terakit, musik juga merupakan bagian integral dari ekspresi artistiknya.
 
Dengan semangat dan apresiasinya terhadap seni yang tinggi, Johanness pun juga mendidikasikan dirinya untuk mengajar di sebuah workshop khusus bodypainting dan menunjukan karyanya di seluruh dunia. Kemampuannya untuk menyentuh hati banyak orang dan memicu kepositifan melalui karya seninya sejauh ini merupakan salah satu keberhasilan Johannes yang menjadikannya salah satu seniman paling berpengaruh di era ini.