Bertempat di lantai upper ground pusat perbelanjaan Sarinah yang terletak di bilangan Jakarta Pusat, Indonesia Tatler mendatangi satu titik yang terlihat dikelilingi oleh pengunjung. Rupanya, di sana sedang ada satu pameran yang bertajuk “Pekan Kain Tradisional Nusantara”. Acara yang diadakan oleh Komunitas Cinta Berkain Indonesia ini sudah berlangsung selama sepekan mulai dari tanggal 21 hingga 31 Oktober. 

Selesai mengisi buku tamu, kami pun mencoba untuk masuk ke dalam dan sentak merasa kagum dengan deretan kain tradisional yang terpajang rapi. Tidak lupa kami juga menemukan ibu Martina, seorang penenun kain yang secara piawai menggerakkan jari-jarinya menjalin untaian demi untaian benang untuk menghasilkan kain tenun khas Maumere.  

ibu marinae.jpgFoto: Dok. Indonesia Tatler

“Ini hasil tenun selama beberapa bulan, biasanya satu kain memakan waktu satu tahun. Seperti kain ini (sambil menunjuk kain di belakangnya).” ucap ibu Martina sambil menebarkan senyum kepada pengunjung. 

Ibu Martina merupakan penenun asli yang datang dari Maumere. Ia mengungkapkan jika dari remaja, beliau sudah belajar menenun. 

Ibu Martina tidak datang sendiri, Ia ditemani oleh bapak Cletus selaku Ketua Sanggar Doka Tawa Tana dari Maumere. Beliau mengungkapkan bahwa tujuannya datang ke Jakarta dan memboyong ibu Martina sebagai penenun aslinya adalah untuk menunjukkan proses pembuatan kain tenun Maumere secara tradisional.  

ibu martina.jpgFoto: Dok. Indonesia Tatler

Peralatan yang dibawa juga lengkap. Mulai dari alat tenun dan alat pemintal semua dibawa langsung dari Maumere. 

Beliau menuturkan bahwa setiap kain dikerjakan menggunakan tangan. Warna dari tiap benang juga berasal dari pewarna alami yang ramah lingkungan. Seperti warna kuning dari kunyit, merah dari akar mengkudu, hijau dari daun lokal yang bernama kacang hutan dan biru dari daun indigo. 

Lamanya proses pembuatan satu kain tenun Maumere juga beragam. Satu kain bisa memakan waktu proses berbulan-bulan hingga ada yang setahun. Lamanya proses tergantung dari motif dan panjang kainnya. Tidak hanya itu, faktor cuaca juga bisa mempengaruhi proses pengerjaan kain tenun ini.

Melihat bahan yang berkualitas dan proses pembuatan yang rumit, sehingga tidak heran jika harga yang dipatok untuk satu kain terbilang tinggi. Satu kain ditaksir seharga Rp 500 ribu hingga Rp 15 juta. 

Kain tenun khas ini merupakan satu bagian penting dalam kehidupan masyarakat Maumere. Secara kain ini dikenakan oleh masyarakat setiap harinya. Seperti ibu Martina yang mengenakan kain tenun sebagai bawahan. Pemakaian kain tenunnya juga tidak sembarang, karena dibedakan untuk wanita dan pria. Untuk pria, kainnya cenderung lebih polos. Sedangkan untuk wanita, kain yang dikenakan memiliki lebih banyak motif. 

Melestarikan kebudayaan yang mulai ditinggalkan 

Pada wawancara kami dengan Ibu Martina, salah satu kesulitan yang dihadapi oleh penenun di Maumere adalah regenerasi. Ia mengatakan bahwa banyak anak muda di desanya mulai meninggalkan kegiatan menenun karena bekerja di kantor atau menjadi pegawai toko lebih menarik perhatian mereka. 

Untuk menjembatani kesulitan tersebut, pameran ini diadakan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terutama anak muda untuk menghargai, mencintai dan melestarikan kain tradisional Indonesia termasuk kain tenun Maumere ini. 

Selain memamerkan kain tenun tradisional khas Nusa Tenggara Timur, pameran ini juga menyelenggarakan berbagai workshops dan fashion show. Tentu dengan adanya acara ini, diharapkan dapat menumbuhkan rasa cinta terhadap warisan budaya tradisional, seperti salah satunya kain tenun. 

Baca juga: Gaya Perempuan Urban Mendominasi Panggung Mode Paulina Katarina Dan SOE Jakarta

Tags: Kain Maumere, Maumere